Tuesday, November 27, 2012

Sikap dan Perilaku


Banyak  sosiolog  dan  psikolog  memberi  batasan  bahwa  sikap  merupakankecenderungan individu untuk merespon dengan cara yang khusus terhadap stimulus yangada dalam lingkungan sosial. Sikap merupakan suatu kecenderungan untuk mendekat atau menghindar, positif atau negatif terhadap berbagai keadaan sosial, apakah itu institusi,pribadi, situasi, ide, konsep dan sebagainya (Howard dan Kendler, 1974; Gerungan, 2000).
Gagne (1974) mengatakan bahwa sikap merupakan suatu keadaan internal (internalstate) yang mempengaruhi pilihan tindakan individu terhadap beberapa obyek, pribadi, dan peristiwa. Masih banyak lagi definisi sikap yang lain, sebenarnya agak berlainan, akan tetapikeragaman pengertian tersebut disebabkan oleh sudut pandang dari penulis yang berbeda. Namun demikian, jika dicermati hampir semua batasan sikap memiliki kesamaan pandang,bahwa sikap merupakan suatu keadaan internal atau keadaan yang masih ada dalam dari manusia. Keadaan internal tersebut berupa keyakinan yang diperoleh dari proses akomodasi dan asimilasi pengetahuan yang mereka dapatkan, sebagaimana pendapat Piaget’s tentangproses perkembangan kognitif manusia (Wadworth, 1971)


Sejalan dengan pengertian sikap yang dijelaskan di atas, dapat dipahami bahwa:
1.sikap ditumbuhkan dan dipelajari sepanjang perkembangan orang yang bersangkutan dalam keterkaitannya dengan obyek tertentu,
2.sikap merupakan hasil belajar manusia, sehingga sikap dapat ditumbuhkan dan dikembangkan melalui proses belajar,
3.sikap selalu berhubungan dengan obyek, sehingga tidak berdiri sendiri,
4.sikap dapat berhubungan dengan satu obyek, tetapi dapat pula berhubungan dengan sederet obyek sejenis,
5.sikap memiliki hubungan dengan aspek motivasi dan perasaan atau emosi (Gerungan, 2000).

PENGERTIAN SIKAP
Walaupun sikap(attitude) merupakan salah satu pokok bahasan yang penting dalam psikologi sosial, para pakar tidak selalu sepakat tentang difisinya. Sarwono (1997) mengemukakan beberapa pengertian sikap. Attitude is a favourable or unfavourable evaluative reaction toward something or someone, exhibited in one’s belief,fellings or ontended behavior (meyers,1996) An attitude is a disposition to responds favourably or unfavourably to an object, person, institution or event (azjeen, 1988). Attitude is a pychological tendency that is expressed by evaluating a perticular entity with some degree of favor or disfavor (eagly & chaiken,1992)
Sikap dapat didefinisikan sebagai posisi yang di ambil dan dihayati seseorang terhadap benda,masalh atau lembaga .beberap sikap bersifat abstrak, misalnya sikap terhadap demokrasi. Sikap-sikap lain dapat bersifat impersonal, misalnya sikap terhadap ganja itu jelek. Akan tetapi sikap yang paling penting adalah sikap terhadap orang lain (Soekaji, Sutarlinah, 1986).
Menurut weber, sikap adalah sebuah reaksi evaluatif (suatu penilaian mengenai kesukaan dan ketidaksukaan seseorang) terhadap orang,peristiwa atau aspek lain dalam lingkungannya. Sebgai suatu
Menurut weber, sikap adalah sebuah reaksi evaluatif (suatu penilaian mengenai kesukaan dan ketidaksukaan seseorang) terhadap orang,peristiwa atau aspek lain dalam lingkungannya. Sebagai suatu evaluasi dari hal yang telah di alami, sikap merupakan posisi yang tidak netral.
Dari berbagai definisi tampak bahwa ciri khas dari sikap adalah sebagai berikut.

1. Mempunyai objek tertentu(orang,perilaku,konsep,situasi,dan benda)

2. Mengandung penilaian (setuju atau tidak setuju,suka atau tidak suka) (Sarwono,S. 1997)

Bagaimana proses terjadinya sikap?

Mengenai proses terjadinya menurut Sarwono,S.(1999) sebagian besar pakar berpendapat bahwa sikap dapat saja sikap dapat timbul tanpa ada pengalaman sebelumnya. Misalnya, orang yang sejak bayi tidak suka sayur. Untuk membedakan sikap dari sifat marilah kita lihat perbedaan yang di buat oleh ajzen (termuat dalam Sarwono,S 1997) berikut ini:

Sikap (attitude)
Sifat ( traid )
Laten
Tidak tampak dari luar
Mengarahkan perilaku
Mengarahkan perilaku
Ada unsure penilaian terhadap objek sikap
Tidak selalu menilai, cenderung konsisten pada berbagai situasi, tidak tergantung penilaian sesaat.
Lebih bias berubah/menyesuaikan
Menolak perubahan

PENGUKURAN SIKAP
Ada beberapa tehnik yang bias digunakan untuk mengatur sikap. Di bawah ini di kemukakan tiga skala pengukuran sikap.

1. Skala thustone
L.L THUSTONE (1887-1955) mengembangkan pendekatan statistic pertama dalam mengukur sikap. Dalam skala ini seorang peneliti mengembangkan serangkaian pernyataan tentang sikap objek. Skala thrustone di susun dengan meminta responden untuk membaca dafata pernyataan yang ada dan memberikan tanda atau poin pada pernyataan yang mereka setujui. Dari situ, poin-poimn yang mereka pilih akan di hitung dan di cari rat-ratanya untuk memperoleh skor sikap seseorang.

2. Skala likert
Skala ini lebih sering digunakan daripada skala Thustone di atas. Rensis Likert (1903-1981) mengembangkan beberapa sikap. Responden kemudian memilih satu angka dari skala setuju sampai tidak setuju. Jumlah dari angka yang di pilih menunjukan sikap respondden terhadap hal ynag dimaksud. Misalnya,untuk mengetahui sikap kita tentang iklan rokok, kita akan di hadapkan pada serangkaian penyataan yang mendukung atau melawan iklan semacam itu. Setiap pernyataan di ikuti dengan serangkaian angka-angka, sebagai skala yang menunjukan persetujuan/penolakan. Skala yang di susun itu bisa berupa sebagai berikut ini.
Amat setuju     1       2      3      4      5      Amat tidak setuju.

3. Skala Semantic Differential
Tehnik pengukuran sikap ini dating dari Osgood,suci, dan Tannenbaum(1957). Sebagaimana di jelaskan Sarwono.S(1997), dasar teorinya adalah \bahwa sikap orang terhadap suatu objek dapat di ketahui jika kita mengetahui konotasi(arti psikologi) dari kata yang melambangkan objek sikap itu.
PEMBENTUKAN SIKAP
Idealnya, sikap di bentuk dari pengalaman seseorang yang akan berfungsi sebagai penuntun perilakunya di masa dating. Para peneliti telah mengidentifikasikan tiga jenois pendekatan dalam memahami pembentukan sikap manusia, yaitu (1) pendekatan belajar, (2) pendekatan consistency cognitive, (3) pendekatan motivational, yang akan di uraikan secara rinci berikut ini.

1.       Pendekatan belajar (learning approaches)

Sikap biasanya terbentuk lewat proses pembelajaran, suatu proses dimana pengalaman dan praktek menghasilkan perilaku yang relative sama atau tetap. Proses pembelajaran ini secara umum di identifikasikan dalam pembentukan sikap melalui :

a. Asosiasi

Asosiasi mengacu pada proses menghubungkan pengalaman-pengalaman yang amat dekat dari segi waktu, ruang atau keadaan. Dua bentuk pembentukan sikap melalui asosiasi adalah classical conditioning dan more exposure.

1) Classical Conditioning.

Sikap bisa saja merupakan serangkaian ide,perasaan,dan keinginan yang kompleks. Namun, sikap bisa juga terbentuk dengan mengasosiasikan satu pengalaman dengan yang lain dan membuat respons yang umum terhadapnya. Belajar untuk membuat respons yang sama pada stimulasi yang diasosiasikan pada stimulus sebelumnya ittulah yang di sebut sebagai classical conditioning. Pada pengalaman emosional yang sederhana, perlakuan semacam ini bisa mengarah pada pembekuan sikap.

2) More Exposure
Pembentukan sikap yang paling jelas dapat di bentuk lewat pengalaman yang berulang-ulang dengan objek sikap, seperti manusia atau tampilan lingkungan yang sering kali di temui. Menurut psikolog Robert Zajonc, terpaan yang berulang-ulang itu biasanya akan menghasuilkan perasaan positif. Misalnya, iklan televise yang sering kita tonton bisa berdampak pada kesukaan kita terhadap produk yg di iklankan. Apalagi kalu kita beranggapan produk itu memang di butuhkan dan menarik.


b. Peneguhan(reinforcement)

Sikap bisa di pelajari dari pengalaman pribadi karena ada konsekuensi tertentu yang bisa di ambil dari sana. Misalnya, kita tahu bahwa setiap saat mengikuti mata kuliah psikologi, kita amat menikmatinya sehingga bisa memperoleh nilai tinggi terus menerus. Dari situ ada semacam peneguhan dalam mengembangkan sikap positif terhadap psikologi. Apalagi kalau temen-teman satu kelas kita juga menikmati mata kuliah ini dan selalu memperoleh nilai baik. Peneguhan merupakan segala macam konsekuensi dari pengalaman kita nantinya bisa menghasilkan perilaku tertentu, seperti kecenderungan untuk mengambil mata kuliah ini dan bukan yang lain atau membaca buku ini dan bukan yg lain,dan seterusnya. Mengenai peneguhan ini, terdapat dua factor yang dapat menimbulkan peneguhan yaitu sebagai berikut.

1) Pengaruh keluarga
Orang tua dan anggota keluarga adlah orang pertama yang memberikan peneguhan terhadap sikap seseorang. Kita biasanya akan cenderung untuk menerima penghargaan, seperti pujian, dan hadiah.
2) Kelompok bermain(peer group) dan kelompok acuan (reference group).
Semakin kita tumbuh dan berkembang dari anak-anak hingga dewasa, kelompok bermain (peers) menjadi hal yang penting dalam mempengaruhi sikap kita. Semakin banyak kita meluangkan waktu bersama teman satu kelompok yang sebaya dan semakin jarangnya bersama teman satu kelompok ynag sebaya dan semakin jarangnya berkumpul bersama keluarga akan membuat mereka menjadi kelompok yang selalu dijadikan acuan(reference group) dalam menentukan opini dan nilai di yang di anut.

Keterkaitan Sikap Dan Perilaku
Sejak awal penelitian tentang sikap benar-benar menjadi hal yang menarik karena di anggapbisa memperkirakan perilakumanusia di masa depan. Pada kegiatan belajar 1 telah di bahas bahwa sikap terdiri dari tiga domain yakni ABC (A=affective, perasaan, b= behavior,perilaku C= cognitive, kesadaran).

A. KESESUAIAN ANTARA SIKAP DAN PERILAKU

Pernyataan yang kerap muncul adalah apakah sikap mengarah pada keinginan untuk bertindak atau berperilaku dan juga padaperilaku secara spesifik? jika memang benar begitu, berarti seorang politikus atau pemasang iklan hanya perlu untuk mengukur pendapat seseorang untuk memperkirakan kecenderungan mereka untuk memilih atau membeli dengan cara tertentu. Menurut Triandis(1982), ketidaksesuaian antara perilku dan sikap disebabkan karena 40faktor (selain sikap) yang terpisah-pisahyang mempengaruhi perilaku. Temuan ini tidaklah baru karena adanya ketidaksesuaiian antara sikap dan perilaku sudah diketahui para pakar sejak lama.
Terdapat tiga macam daya tarik yang membuat seseorang cenderung disukai dan lebih persuasive, yaitu sebagai berikut.

a. Penampilan fisik. Orang yang berpenampilan baik atau enak dipandang lebih bisa mempersuasi orang di banding dengan komunikator yang berpenampilan biasa.
b. Power ( kekuasaan). Komunikator yang terlihat memiliki kekuasaan lebih persuasive di banding sumber yang tidak di efektif/dikenal.

c. Kesamaan dengan penerima pesan. Komunikator yang membangun kesamaan dengan penerima pesan , misalnya dengan mengatakan “ saya sama dengan anda semua” maka rekomendasinya atas suatu hal dapat lebih persuasive karana penerima pesan menemukan ada kesamaan dengan pembicara.

TEORI-TEORI PERUBAHAN SIKAP
Terdapat dua macam teori yang mengembangkan hipotesis tentang apa mempersuasi sipa, kapan, dan bagaimana, yaitu elaboration-likelihood model, dan self-justfication theories.

1.       The elaboration-likelihood model
Perubahan sikap merupakan hasil dari beragam factor yang terlibat dalam transmisi pesan, yaitu sumber, pesan, dan penerima pesan. Akan tetapi ketiga factor itu tidak selalu bekerja bersama-sama. Apa yang terjadi jika komunikator kredibel dan atraktif, namun pesanya sangat berbeda dan tidak sesuai dengansudut pandang yang dimiliki penerima pesan? Oleh Karen itu, juga perlu diperhatikan kapan dan bagaimana fakto-faktor tersebut akan sangat mempengaruhi.
a.       Sentral processing(pemrosesan pada hal inti atau pusat)
Seseorang melakukan pemrosesan pusat atau sistemik jika ia berkonsentrasi atau focus pada argument dalam pesan persuasive. Logis kah alas an yang dikemukakan? Dapatkah pesan itu menguasai perhatiaannya? Jawaban penerima pesan atas pertanyaan tersebut akan menentukan apakah pesan itu efektif atau tidak.
b.      Peripheral processing (pemrosessan pada hal pinggir)
Jika kondisinya tidak memungkinkan untuk berkonsentrasi pada pusat pesan, menurut model petti dan caiopo persuasi akan bergantung pada pemrosesan peripheral atau heuristic dengan demikian, penerima pesan terpengaruh bukan pada pesan yang diterima, melainkan pada hal-hal yang berada di luar hal itu, seperti karakteristik komunikator, penyajian pesan atau penerima pesan.

2.       Self-justification
 Menurut teori-teori pembenaran diri ini, kita butuh untuk membenarkan tindakan yang kita lakukan, dan mempertahankan konsistensi sikap dan perilaku kita.
a.       Dissonance reduction
 teori koogninitf dissonance milik Leon Festinger menyatakan bahwa ketidaksesuaian antara tindakan yang baru dan sikap yang lama akan menciptakan dissonance, keadaan tidak nyaman yang mendorong kita untuk menguranginya. Oleh karena tindakan yang sudah dilakukan tidak dapat ditarik kembali maka sikap elemen kognitif yang dapat di tundukan di ubah agar sesuai tindakan.
b. The power of commitment

1.       behavior lead to attitude (perilaku menuntun pada sikap)
 Beberapa sikap dapat dengan mudah di ubah dibandingkan sikap-sikap lainnya. Sikap yang terbentuk dari pengalaman pribadi cenderung lebih kuat dari pada sikap yang diperoleh dari tangan kedua (orang yang tau hal lain).

2.       indocements(dorongan atau pancingan)
Contoh : maukah anda beralih dari merk kopi yang biasa anda gunakan untuk menghemat uang? Ketika berbelanja, bagaimana jika anda melihat merklain harganya lebih rendah di banding merk favorit anda tersebut ? pada saat itu, anda mungkin terdorong untuk membeli merk lain yang lebih murah.

No comments: