Wednesday, November 28, 2012

Sistem Komunikasi Massa


PENGERTIAN KOMUNIKASI MASSA

Terdapat beberapa definisi mengenai komunikasi massa yang disampaikan oleh beberapa ahli diantaranya:
Menurut Bittner (1980:10)
“Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang.”
Menurut Garbner (1967)
“Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paing luas dimiliki orang dalam masyarakat industry.”
Ruben (1992)
“Komunikasi massa adalah proses di mana informasi diciptakan dan disebarkan oleh organisasi untuk dikonsumsi oleh khalayak.”

Dari definisi-definisi diatas dapat diambil suatu rangkuman definisi bahwa komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau media elektronik sehingga pesan yang sama dapat disampaikan secara serempak dan sesaat. Atau dengan kata lain, komunikasi massa adalah proses penyampaian pesan yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada klayak yang sifatnya missal melalui alat-alat yang bersifat mekanis.

Karena perbedaan teknis, maka sistem komunikasi massa juga mempunyai karakteristik psikologi yang khas dibandingkan dengan sistem komunikasi interpersonal. Hal ini tampak pada :

a. Pengendalian arus informasi
Mengendalikan arus informasi berarti mengatur jalannya pembicaraan yang disampaikan dan yang diterima. Pada komunikasi massa, seorang komunikator mengendalikan arus informasi sehingga menunjang persuasi yang efektif. Komunikator sulit untu menyesuaikan pesannya dengan reaksi komunikan.
b. Umpan balik
Umpan balik adalah pesan yang dikirim kembali dari penerima ke sumber, memberitahu sumber tentang reaksi penerima, dan memberikan landasan pada sumber untuk memberikan reaksi selanjutnya. Dalam komunikasi massa umpan balik (feedback) m
c. Stimulasi alat indra
Dalam komunikasi massa, stimuli alat indra bergantung pada media massa yang digunakan.
d. Proporsi unsur isi dengan hubungan
Dalam komunikasi massa lebih menekankan isi pesan dibandingkan dengan hubungan yang terjadi pada saat proses berkomunikasi berlangsung. Dengan kata lain dalam komunikasi massa lebih menekankan apa yang menjadi isi pesan dibandingkan dengan bagaimana penyampaian pesan tersebut berlangsung.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REAKSI KHALAYAK PADA KOMUNIKASI MASSA

A. Teori DeFleur dan Ball-Rokeach tentang Pertemuan dengan Media
Menurut DeFleur dan Ball-Rokeach faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi orang terhadap media massa meliputi:
1) Organisasi personal-psikologis individu seperti potensi biologis, sikap, nilai, kepercayaan, serta bidang pengalaman yang berbeda pada setiap individunya. Perbedaan ini dapat menyebabkan pengaruh media massa yang berbeda pula.
2) Kelompok-kelompok social dimana individu menjadi anggota yang mempunyai reaksi pada stimuli tertentu cenderung sama. Setiap anggota dalam suatu kelompok cenderung memilih kisi komunikasi yang sama dan akan member respon kepadanya dengan cara yang hamper sama pula.
3) Hubungan-hubungan interpersonal pada proses penerimaan, pengelolaan, dan penyampaian informasi.

B. Pendekatan Motivasional dan Uses and Gratification
Menurut pendekatan ini, perbedaan motif dalam konsumsi media massa menyebabkan kita bereaksi pada media massa secara berbeda pula. Secara garis besar terdapat dua motif yaitu :
1) Motif Kognitif dan Gratifikasi Media
Pada kelompok kognitif yang berorientasi pada pemeliharaan keseimbangan, McGuire menyebut empat teori yaitu :

a. Teori konsistensi; menekankan kebutuhan individu untuk memelihara orientasi eksternal pada lingkungan. Komunikasi massa mempunyai kecendrungan menyampaikan informasi yang menggoncangkan. Tetapi, pada saat yang sama, karena individu mempunyai kebebasan untuk memilih isi media, media massa memberikan banyak peluang untuk memenuhi kebutuhan akan konsistensi.
b. Teori atribusi; memandang individu sebagai psikolog amatir yang mencoba memahami sebab-sebab yang terjadi pada berbagai peristiwa yang dihadapinya. Respon yang kita berikan pada suatu peristiwa akan bergantung pada nterpretasi kita terhadap peristiwa tersebut.
c. Teori kategorisasi; menjelaskan upaya manusia untuk memberikan makna tentang dunia berdasarkan kategori internal dalam diri kita. Isi komunikasi massa, yang disusun berdasarkan alur-alur cerita yang tertentu, dengan mudah diasimilasikan pada kategori yang ada.
d. Teori objektifikasi; menerangkan upaya manusia untuk memberikan makna tentang dunia berdasarkan hal-hal eksternal. Menyatakan bahwa kita mengambil kesimpulan tentang diri kita dari perilaku yang tampak.

EFEK KOMUNIKASI MASSA

A. Efek Kehadiran Media Massa
Menurut Steven H. Chaffee menyebut lima hal yang menjadi efek kehadiran media massa yaitu :
(1) Efek ekonomis, kehadiran media massa menggerakkan berbagai usaha seperti usaha pensuplai kertas koran, percetakan dan lain sebagainya.
(2) Efek sosial, berkenaan dengan perubahan pada struktur atau interaksi sosial akibat kehadiran media massa.
(3) Efek pada penjadwalan kegiatan
(4) Efek pada penyaluran/penghilangan perasaan tertentu
(5) Efek pada perasaan orang terhadap media

B. Efek Kognitif Komunikasi Massa
(1) Pembentukan dan perubahan citra, komunikasi massa memberikan informasi, perincian, analisis, dan tinjauan mendalam tentang berbagai peristiwa sehingga dapat membentuk citra sesuatu bahkan mengubah citra tersebut. Perubahan citra seringkali disusul oleh perubahan perilaku.
(2) Agenda setting, kemampuan media massa untuk mempengaruhi apa yang dianggap penting oleh masyarakat. Pada teori agenda setting memiliki asumsi bahwa media massa menyaring berita, artikel dan tulisan yang akan disiarkannya.
(3) Efek prososial kognitif, media memberikan informasi kepada khalayak dan khalayak merasa informasi yang diterima bermanfaat sesuai dengan kehendak khalayak itu sendiri.

C. Efek Afektif Komunikasi Massa
(1) Pembentukkan dan perubahan sikap, informasi yang disampaikan melalui media massa dapat membentuk sikap seseorang terhadap sesuatu yang diinformasikan, contohnya membentuk sikap pro KPK dalam kasus KPK dan POLRI setelah diberitakan di televisi. Sebagian besar masyarakat membentuk sikap antipati kepada POLRI karena dianggap ingin menjatuhkan KPK. Selain itu, informasi tersebut juga dapat mengubah sikap seseorang yang mungkin asalnya biasa-biasa saja kepada POLRI berubah menjadi antipati.
(2) Rangsangan emosional, rangsangan yang terdapat dalam sebuah informasi (seperti film, novel, sandiwara) yang disampaikan melalui media massa yang digunakan untuk menyentuh emosi kita. Rangsangan emosional memiliki lima faktor yaitu:
 (3) Rangsangan seksual, disebabkan oleh adegan-adegan merangsang dalam media massa. Objek yang netral dapat menjadi stimuli erotis (stimuli yang membangkitkan gairah seksual) hanya karena proses pelaziman, imajinasi, dan pengalaman yang bermacam-macam.

D. Efek Behavioral Komunikasi Massa
(1) Efek prososial behavioral, memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain yang didapat dari media massa karena media massa juga dapat dijadikan sebagai alat pendidikan.
(2) Agresi, film kekerasan mengajari agresi, mengurangi kendali moral penontonnya, dan menumpulkan perasaan mereka. Karena manusia akan lebih tertarik untuk mengikuti sesuatu yang ditampilkan dan menarik bagi mereka.
Selain efek-efek diatas, Kappler (1960) mengatakan bahwa komunikasi masa juga memiliki efek sebagai berikut:
1. conversi, yaitu menyebabkan perubahan yang diinginkan dan perubahan yang tidak diinginkan.
2. memperlancar atau malah mencegah perubahan
3. memperkuat keadaan (nilai, norma, dan ideologi) yang ada

Cr: http://halishinaditya.blogspot.com/2010/02/psikologi-komunikasi-sistem-komunikasi.html

Pengaruh sosial dan Perilaku kelompok


PENGARUH SOSIAL
Pengaruh sosial merujuk pada perubahan sikap atau perilaku, sebagai hasil dari interaksi dengan orang lain. Pengaruh sosial juga berpengaruh pada perilaku komunikasi, baik secara individual maupun komunikasi dalam kelompok. Seberapa jauh dan mendalamnya pengaruh sosial terhadap sikap, perilaku dan komunikasi. Berikut pembahasannya.

A. TINGKATAN PENGARUH SOSIAL
Terdapat perbedaan tingkat penerimaan pengaruh sosial pada individu dalam hal ini terdapat dua kemungkinan, Anda mungkin akan menerima sepenuhnya pengaruh pengaruh orang lain tersebut (acceptance) atau Anda hanya melakukan perubahan secara parsial (hanya untuk memenuhi), tidak menerima pengaruh tersebut secara utuh (compliance).

1. Acceptance(Penerimaan)
Perubahan yang terjadi di dalam batin kita sebagai hasil dari pengaruh sosial disebut dengan penerimaan (acceptance). Jika seseorang atau sebuah kelompok meyakinkan Anda untuk mempercayai dan juga bertindak seperti yang diinginkan maka perubahan yang Anda lakukan berdasarkan proses yang terjadi di dalam batin. Berikut merupakan bentuk – bentuk dari acceptance.

a. Indentification (Identifikasi)
Kita mungkin menerima pengaruh karena kita mengindentifikasi atau memihak sebuah kelompok, individu atau karena alasan tertentu. Identifikasi membantu mempertahankan hubungan personal antara mereka yang terlibat. Pada bentuk penerimaan ini, isi dari perubahan keyakinan dan perilaku bukanlah suatu hal yang penting jika dibandingkan dengan hasilnya.

b. Internalization (internalisasi)
Bentuk penerimaan yang paling dalam adalah ketika seseorang merasa yakin untuk mempercayai perubahan sikap. Pada kasus ini, seseorang telah terinternalisasi dengan keyakinan baru, menerima makna dan bentuk sosial.

2. Compliance
Pada beberapa hal, pengaruh sosial tidak begitu berdampak bagi seseorang, dan juga tidak dapat seutuhnya mengubah sikap. Ketika Anda mengubah perilaku atau ekspresi dari sebuah sikap, tetapi tidak menerima perubahan tersebut secara utuh maka inilah yang disebut dengan compliance. Kita bisa mendapatkan contoh – contoh dari compliance ini melalui pengamatan terhadap orang lain.

Bentuk – bentuk compliance adalah sebagai berikut:

a. Conformity (Konformitas)
Bentuk compliance yang paling banyak di teliti adalah konformitas, yaitu berubahnya sikap atau perilaku yang disebabkan adanya tekanan dari kelompok (group pressure). Ada bebrapa kondisi dan proses yang dapat menghasilkan perubahan, yang akan dibahas pada bagian selanjutnya.

b. Obedience (kepatuhan)
            Bentuk yang paling menarik dari compliance adalah kepatuhan, di mana pengaruh individu terhadap perubahan perilaku individu lainnya adalah hasil permintaan secara langsung atua perintah.

B. MENERIMA PENGARUH ORANG LAIN
Mengapa kita menuruti dan terkadang menerima pengaruh orang lain? Ada dua alasan atau standar yang dikemukakan para ahli.

1. Pengaruh Normatif
Menurut teori pembandingan sosial, untuk memvalidasi atau mempertegas keyakinan sosial kita, kita merundingkan atau mengonsultasikannya dengan perilaku orang lain. Jika pengamatan kita terhadap orang lain memberi suatu pedoman dalam berperilaku (norma) kita mungkin akan terpengaruh untuk meniru tindakan tersebut. Contoh ketika anda hendak memutuskan kursus apa yang dipilih, mungkin anda meminta saran dari teman. Lalu, berdasarkan saran teman itulah, Anda menentukan pilihan, bukan berdasar kemauan anda sendiri. Ini seperti anda menyimpulkan “Orang – orang itu tidak mungkin salah”. Pengaruh normatif terutama bergantung pada isyarat/petunjuk sosial, misalnya ukuran kelompok spsial atau status orang yang memberi pengaruh.

2. Pengaruh Informasional
Terkadang kita mengubah pikiran dan tindakan karena orang lain telah menunjukkan kita cara/jalan yang lebih baik atau mereka memberi informasi yang berguna. Pengaruh informasi ini tidak hanya menghasilkan compliance, tetapi juga acceptance.

C. BENTUK – BENTUK PENGARUH SOSIAL
Ada tiga bentuk pengaruh sosial, yaitu (1) konformitas, (2) kepatuhan, dan (3) kekuasaan (power). Marilah kita bahas satu per satu.

1. Konformitas
Tidaklah mengherankan jika kita hanya sekedar mengikuti pikiran dan tindakan teman – teman kita atau orang – orang yang kita kenal. Dari berbagai hubungan yang dimiliki, kita mendapat berbagai manfaat, termasuk standar atau norma untuk dapat menyesuaikan diri. Penelitian klasik telah menguji dampak dari kehidupan orang lain, baik orang asing ataupun teman, berdasarkan dua proses, yaitu pembentukan norma (norm formation) dan tekanan kelompok (group pressure).

2. Kepatuhan
Dalam hal ini terdapat konsep Experimental realism, yakni realitas terhadap pengalaman yang dapat mempengaruhi kepatuhan, dimana individu menafsirkan situasi yang sangat kuat, membuat kebanyakan individu sulit untuk melawan.

3. Kekuasaan Sosial
Studi mengenai konformitas dan kepatuhan ini tidak hanya berbeda dalam susunannya, tetapi juga sifat kekuasaan atau power, yaitu tekanan untuk menyesuaikan diri yang timbul dari power sebuah kelompok sosial, sementara tekanan untuk patuh datang dari power seseorang yang berwenang.

PERILAKU KELOMPOK

Sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia selalu membentuk kelompok – kelompok dan dalam kelompok itulah mereka berkomunikasi, baik antarsatu orang dengan orang lain atau satu orang dengan sekelompok orang.

A. KLASIFIKASI DAN PERAN KELOMPOK

Tidak semua kumpulan orang dapat membentuk suatu kelompok. Secara psikologis sebuah kelompok didefinisikan atas kualitas fungsional, bukan dari sifat fisiknya.
Dalam psikologi sosial, suatu kelompok terdiri dari kurang lebih dua orang atau lebih banyak yang berinteraksi, berkomunikasi, dan mempengaruhi satu sama lain selama beberapa waktu.

1. Peran Kelompok

a. Identitas
Kepemilikan dalam kelompok adalah suatu bentuk kategorisasi sosial, yaitu kelompok menjadi satu aspek dari identitas sosial.

b. Penyimpangan
Tujuan kelompok terkadang dapat mengesampingkan atau bertentangan dengan tujuan pribadi anggotanya. Seseorang yang melanggar norma kelompok demi pemuasan kebutuhan pribadi disebut sebagai penyimpang. Menurut teori perbandingan sosial, penting bagi para anggota kelompok untuk saling memvalidasi keyakinan.

c. Dampak sosial
Sebuah kelompok akan lebih besar berpengaruh pada setiap anggotanya jika kuat, pengaruhnya dekat, dan jika kelompok tersebut mempunyai jumlah yang besar.

2. Struktur dan Fungsi Kelompok
Psikolog sosial dari Harvard, Robert Bales, membedakan dua fungsi penting dari perilaku kelompok, yaitu agenda tugas yang berhubungan dengan pekerjaan dan agenda sosial yang mempertemukan kebutuhan emosional dan peran sosial anggota kelompok.

3. Proses dalam Kelompok
Individu dalam konteks kelompok dapat berperilaku berbeda dari orang lain yang bertindak secara bebas tanpa ikatan dengan kelompok manapun. Proses kunci dari kelompok  yaitu deindividuasi, fasilitas sosial, dan sosialisasi kelompok.

a. Dampak terhadap kesadaran diri, deindividualisme
Keterlibatan kelompok dapat memengaruhi selfawareness dan menciptakan deindividualisasi. Kondisi ini membuat individu kurang berpikir secara mendalam dan berperilaku sesuai kata hati. Dampak terhadap kesadaran diri, yaitu adanya pengurangan kesadaran diri, dapat berupa tindakan yang tidak konsisten dengan sikap individu tersebut dan penyerapan norma kelompok yang terlihat.

b. Dampak terhadap performance (kinerja): fasilitas sosial
Kehadiran orang lain dapat mendorong dan memudahkan pelaksanaan kinerja. Ini yang dimaksud dengan pengaruh fasilitasi sosial karena keberadaan oranglain dapat memudahkan pelaksanaan kerja.

c. Sosialisasi kelompok
Proses yang membuat pendatang baru untuk menjadi anggota seutuhnya dalam sebuah kelompok adalah sosialisasi kelompok. Sosialaisasi berlangsung dalam serangkaian tahap, yaitu
investigasi, sosialisasi, pemeliharaan, dan terkadang resosialisasi dan kenangan.

4. Pembentukan Keputusan
Pembuatan keputusan adalah salah satu kajian penting dalam kelompok. Bahkan kelompok informal seperti teman atau rekan kerja akan menghabiskan waktu untuk membuat keputuasan

Terdapat lima faktor yang dapat mempengaruhi kualitas keputusan kelompok yaitu:

a. Tujuan Sama
Sebuah keputusan akan lebih baik jika seluruh anggota kelompok menerima tujuan yang sama.

b. Pembagian Tugas
Sebagian tugas lebih baik dibagi, dan sebagian tidak. Tugas yang dibagi yang mengarah kepada delegasi yang lebih baik dalam kelompok dan hasil akhir tercapai dengan baik pula.

c. Status dan Komunikasi
Anggota dengan status lebih tinggi akan berbicara lebih banyak dan lebih berpengaruh. Sedangkan anngota yang berstatus rendah akan tunduk pada atasan mereka.

d. Ukuran Kelompok
Semakin kecil kelompok akan semakin efisien pekerjaannya. Kelompok yang lebih besar akan mewakili lebih banyak pendapat, tetapi setiap anggota kurang berkontribusi dalam putusan akhir.

e. Heterogenitas Kelompok
Kelompok heterogen meliputi berbagai macam perbedaan, seperti ras, gender, umur, pekerjaan, sedangkan anggota dalam kelompok homogen lebih memiliki kesamaan satu dengan lainnya.

5. Polarisasi Kelompok
Ada yang berpendapat bahwa dalam kelompok individu menjadi kurang berani, kurang kreatif, kurang inovatif, menghindari resiko. Namun, ada yang berpendapat orang yang berasa dalam kelompok justru cenderung lebih berani.
Biasanya yang terjadi dalam kelompok adalah apabila sebelum diskusi kelompok para anggotanya mempunyai sikap agak mendukung tindakan tertentu. Sebaliknya apabila sebelum diskusi para anggota agak menentang tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan menentangnya lebih keras lagi.

B. KEPEMIMPINAN
Pemimpin adalah anggota kelompok yang berpengaruh, yaitu menuntun , mengarahkan dan memotivasi usaha yang dilakukan kelompok. Kepemimpinan merupakan perilaku dalam kelompok yang paling menentukan keefektifan komunikasi kelompok.

     1.  Perilaku Kepemimpinan

a. Spesialis
Sebagai pemimpin kompeten di kedua peran dan dapat menyeimbangkan agenda – agenda tersebut. Sebagian lain mempunyai kelebihan pada salah satu tugas.

b. Kepemimpinan unggul
Pemimpin yang memberi yang terbaik yang ia bisa dan orang yang memerhatikan anggota - anggotanya.

2. Fungsi Pemimpin

- Pencapaian tujuan

- Pemeliharaan Kelompok

- Identitas Simbolik

- Perwakilan Kelompok

- Perubahan Kelompok

3. Cara Pandang Memilih Pemimpim

- Pendekatan yang baik bahwa pemimpin yang baik dilahirkan

- Pendekatan bahwa kepemimpinan adalah soal gaya

- Pendekatan Konteksual

Tuesday, November 27, 2012

Atraksi hubungan interpersonal dan Proses terjadinya


 ATRAKSI INTERPERSONAL
1.    Definisi atraksi interpersonal
                Kita dapat meramalkan arus komunikasi interpersonal yang akan terjadi. Semakin tertarik kita kepada seseorang, maka semakin besar kecenderungan kita berkomunikasi dengan dia. Oleh karena itu, atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Adanya daya tarik ini membentuk rasa suka. Rasa suka pada seseorang umumnya membuat orang yang kita sukai menjadi signifikan bagi kita.

2.      Teori atraksi interpersonal
·         Reinforcement theory menjelaskan bahwa seseorang menyukai orang lain adalah sebagai hasil belajar.
·         Equity theory menyatakan bahwa dalam suatu hubungan, manusia selalu cenderung menjaga keseimbangan antara harga (cost) yang dikeluarkan dengan ganjaran (reward) yang diperoleh.
·         Exchange theory menjelaskan bahwa interaksi sosial diibaratkan sebagai transaksi dagang. Jika orang kenal pada seseorang yang mendatangkan keuntungan ekonomis dan psikologis, akan lebih disukai
·         Gain-loss theory menyatakan bahwa orang cenderung lebih menyukai orang-orang yang menguntungkan daripada orang-orang yang merugikan kita

3.    Faktor yang mempengaruhi atraksi interpersonal
Faktor-faktor yang mempengaruhi atraksi interpersonal dibagi menjadi dua, yaitu faktor personal dan faktor situasional.
Berikut ini adalah penjelasan dari faktor-faktor tersebut, yaitu:
1. Faktor-faktor personal yang mempengaruhi atraksi interpersonal:

•Kesamaan karakteristik personal
Orang-orang yang memiliki kesamaan dalam nilai-nilai, sikap, keyakinan, tingkat sosioekonomis, agama, dan ideologis memiliki kecenderungan saling menyukai. Menurut teori Cognitive consistencydari Fritz Heider dalam Jalaluddin Rakhmat (2011), manusia selalu berusaha mencapai konsistensi dalam sikap dan perilakunya.
Contoh:     Ketika kita sedang naik kendaraan umum dan berjumpa dengan seorang kenalan baru. Maka percakapan kita berlangsung dan dimulai dari masalah-masalah demografis (dimana anda tinggal, pekerjaan anda, dll) sampai masalah-masalah politik dan sebagainya.

•Tekanan emosional (stress)
Bila seseorang sedang dalam keadaan yang mencemaskannya atau harus memikul tekanan emosional, maka ia akan menginginkan kehadiran orang lain. Tekanan emosional ini dibuktikan oleh Stanley Schacter dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) dengan membuat sebuah eksperimen. Ia mengumpulkan dua kelompok mahasiswi. Kepada kelompok pertama dia menyatakan bahwa mereka akan menjadi subjek eksperimen yang meneliti efek kejutan listrik yang sangat menyakitkan. 

•Harga diri yang rendah
Menurut wlster dalam Jalaluddin Rakhmat (2011), bila harga diri seseorang direndahkan, harsat afiliasi (bergabung dengan orang lain) bertambah, dan ia makin responsif untuk menerima kasih sayang orang lain. Orang yang rendah diri cenderung mudah mencintai orang lain.

•Isolasi sosial.
Manusia adalah makhluk sosial. Manusia mungkin tahan dengan hidup terasing untuk beberapa waktu dan bukan untuk waktu yang lama. Isolasi sosial merupakan pengalaman yang tidak enak. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa tingkat isolasi sosial sangat berpengaruh terhadap kesukaan kita pada orang lain.

 HUBUNGAN INTERPERSONAL
1. Definisi hubungan interpersonal
Komunikasi yang efektif ditandai dengan adanay hubungan interpersonal yang baik.  Menurut Anita Taylor dalam Jalaluddin Rakhmat (2011), komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting. Setiap melakukan komunikasi, kita bukan hanya sekadar menyampaikan isi pesan (content), tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonal (relationship). Berikut ini adalah contoh beberapa kalimat yang menunjukkan kadar hubungan interpersonal yang berbeda, yaitu: 
•             Rumahmu dimana?
•             Dimanakah rumah anda?
•             Bolehkah saya tahu dimana rumah anda?
Pandangan bahwa komunikasi mendefinisikan hubungan interpersonal telah dikemukakan oleh Ruesch dan Bateson (1951) pada tahun 1950-an. Gagasan ini dipopulerkan di kalangan komunikasi oleh Waulawuck, Beavin, dan Jackson (1967). Selain itu, para psikolog juga mulai menaruh minat yang besar pada hubungan interpersonal seperti tampak pada tulisan Gordon W. Allport (1960), Erich Fromm (1962), Martin Buber (1975), Carl Rogers (1951). Semua tokoh psikologi tersebut mewakili mazhab humanistik.
Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.

2. Teori hubungan interpersonal
Untuk menganalisis hubungan interpersonal, menurut Goleman dan Hammen dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) terdapat empat buah model, yaitu:

1.       Model pertukaran sosial (social exchange model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Pada model ini, orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) menyimpulkan model ini sebagai asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya. Terdapat empat konsep pokok dalam model ini, yaitu:
•  Ganjaran
Ganjaran adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran dapat berupa uang, penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai. Nilai suatu ganjaran berbeda antara seseorang dengan orang lain, dan antara waktu yang satu dengan waktu yang lain.
Contoh:     Bagi orang miskin, uang lebih berharga daripada ilmu pengetahuan. Sedangkan bagi orang kaya, mungkin penerimaan sosial lebih berharga daripada uang

Faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal
Terdapat tiga faktor yang dapat menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal, yaitu:

- Percaya (trust)
Dari semua faktor, faktor percaya adalah yang paling penting. Menurut Giffin dalam Jalaluddin Rakhmat (2011), percaya didefinisikan sebagai mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh risiko. Definisi tersebut menyebutkan adanya tiga unsur percaya, yaitu:
 Ada situasi yang menimbulkan risiko
 Orang yang menaruh kepercayaan kepada orang lain berarti menyadari bahwa akibat-akibatnya bergantung pada perilaku orang lain

Orang yang yakin bahwa perilaku orang lain akan berakibat baik baginya
Manfaat menaruh rasa percaya pada orang lain adalah meningkatkan komunikasi interpersonal karena membuka saluran komunikasi, memperjelas pengiriman dan penerimaan informasi, serta memperluas peluang komunikan untuk mencapai maksudnya. Selain itu, hilangnya kepercayaan pada orang lain akan menghambat perkembangan hubungan interpersonal yang akrab.
Di samping faktor-faktor personal, terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan sikap percaya seperti karakteristik dan maksud dari orang lain, adanya hubungan kekuasaan, sifat dan kualitas komunikasi, serta adanya sikap jujur dari setiap komunikan.

Selain itu, terdapat juga tiga hal utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya dan mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya, yaitu:
- Menerima, adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan berusaha mengendalikan. Menurut Anita Taylor dalam Jalaluddin Rakhmat (2011), menerima adalah sikap yang melihat orang lain sebagai menusia, sebagai individu yang patut dihargai. Menerima tidaklah berarti menyetujui semua perilaku orang lain atau rela menanggung akibat-akibat perilakunya.
- Empati, adalah sikap yang dianggap sebagai memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosional bagi kita. Dalam empati, kita tidak menempatkan diri kita pada posisi orang lain, tetapi kita ikut secara emosional dan intelektual dalam pengalaman orang lain. Berempati artinya membayangkan diri kita pada kejadian yang menimpa orang lain.
- Kejujuran, dapat diartikna sebagai sikap apa adanya. Menerima dan empati mungkin saja dipersepsi salah oleh orang lain. Sikap menerima kita dapat ditanggapi sebagai sikap tak acuh, dingin, dan tidak bersahabat. Sedangkan sikap empati kita dapat ditanggapi sebagai pura-pura. Supaya ditanggapi sebenarnya, maka kita harus jujur dalam mengungkapkan diri kita terhadap orang lain. Kejujuran menyebabkan perilaku kita dapat diduga, sehingga mendorong orang lain untuk percaya pada kita.

Sikap dan Perilaku


Banyak  sosiolog  dan  psikolog  memberi  batasan  bahwa  sikap  merupakankecenderungan individu untuk merespon dengan cara yang khusus terhadap stimulus yangada dalam lingkungan sosial. Sikap merupakan suatu kecenderungan untuk mendekat atau menghindar, positif atau negatif terhadap berbagai keadaan sosial, apakah itu institusi,pribadi, situasi, ide, konsep dan sebagainya (Howard dan Kendler, 1974; Gerungan, 2000).
Gagne (1974) mengatakan bahwa sikap merupakan suatu keadaan internal (internalstate) yang mempengaruhi pilihan tindakan individu terhadap beberapa obyek, pribadi, dan peristiwa. Masih banyak lagi definisi sikap yang lain, sebenarnya agak berlainan, akan tetapikeragaman pengertian tersebut disebabkan oleh sudut pandang dari penulis yang berbeda. Namun demikian, jika dicermati hampir semua batasan sikap memiliki kesamaan pandang,bahwa sikap merupakan suatu keadaan internal atau keadaan yang masih ada dalam dari manusia. Keadaan internal tersebut berupa keyakinan yang diperoleh dari proses akomodasi dan asimilasi pengetahuan yang mereka dapatkan, sebagaimana pendapat Piaget’s tentangproses perkembangan kognitif manusia (Wadworth, 1971)


Sejalan dengan pengertian sikap yang dijelaskan di atas, dapat dipahami bahwa:
1.sikap ditumbuhkan dan dipelajari sepanjang perkembangan orang yang bersangkutan dalam keterkaitannya dengan obyek tertentu,
2.sikap merupakan hasil belajar manusia, sehingga sikap dapat ditumbuhkan dan dikembangkan melalui proses belajar,
3.sikap selalu berhubungan dengan obyek, sehingga tidak berdiri sendiri,
4.sikap dapat berhubungan dengan satu obyek, tetapi dapat pula berhubungan dengan sederet obyek sejenis,
5.sikap memiliki hubungan dengan aspek motivasi dan perasaan atau emosi (Gerungan, 2000).

PENGERTIAN SIKAP
Walaupun sikap(attitude) merupakan salah satu pokok bahasan yang penting dalam psikologi sosial, para pakar tidak selalu sepakat tentang difisinya. Sarwono (1997) mengemukakan beberapa pengertian sikap. Attitude is a favourable or unfavourable evaluative reaction toward something or someone, exhibited in one’s belief,fellings or ontended behavior (meyers,1996) An attitude is a disposition to responds favourably or unfavourably to an object, person, institution or event (azjeen, 1988). Attitude is a pychological tendency that is expressed by evaluating a perticular entity with some degree of favor or disfavor (eagly & chaiken,1992)
Sikap dapat didefinisikan sebagai posisi yang di ambil dan dihayati seseorang terhadap benda,masalh atau lembaga .beberap sikap bersifat abstrak, misalnya sikap terhadap demokrasi. Sikap-sikap lain dapat bersifat impersonal, misalnya sikap terhadap ganja itu jelek. Akan tetapi sikap yang paling penting adalah sikap terhadap orang lain (Soekaji, Sutarlinah, 1986).
Menurut weber, sikap adalah sebuah reaksi evaluatif (suatu penilaian mengenai kesukaan dan ketidaksukaan seseorang) terhadap orang,peristiwa atau aspek lain dalam lingkungannya. Sebgai suatu
Menurut weber, sikap adalah sebuah reaksi evaluatif (suatu penilaian mengenai kesukaan dan ketidaksukaan seseorang) terhadap orang,peristiwa atau aspek lain dalam lingkungannya. Sebagai suatu evaluasi dari hal yang telah di alami, sikap merupakan posisi yang tidak netral.
Dari berbagai definisi tampak bahwa ciri khas dari sikap adalah sebagai berikut.

1. Mempunyai objek tertentu(orang,perilaku,konsep,situasi,dan benda)

2. Mengandung penilaian (setuju atau tidak setuju,suka atau tidak suka) (Sarwono,S. 1997)

Bagaimana proses terjadinya sikap?

Mengenai proses terjadinya menurut Sarwono,S.(1999) sebagian besar pakar berpendapat bahwa sikap dapat saja sikap dapat timbul tanpa ada pengalaman sebelumnya. Misalnya, orang yang sejak bayi tidak suka sayur. Untuk membedakan sikap dari sifat marilah kita lihat perbedaan yang di buat oleh ajzen (termuat dalam Sarwono,S 1997) berikut ini:

Sikap (attitude)
Sifat ( traid )
Laten
Tidak tampak dari luar
Mengarahkan perilaku
Mengarahkan perilaku
Ada unsure penilaian terhadap objek sikap
Tidak selalu menilai, cenderung konsisten pada berbagai situasi, tidak tergantung penilaian sesaat.
Lebih bias berubah/menyesuaikan
Menolak perubahan

PENGUKURAN SIKAP
Ada beberapa tehnik yang bias digunakan untuk mengatur sikap. Di bawah ini di kemukakan tiga skala pengukuran sikap.

1. Skala thustone
L.L THUSTONE (1887-1955) mengembangkan pendekatan statistic pertama dalam mengukur sikap. Dalam skala ini seorang peneliti mengembangkan serangkaian pernyataan tentang sikap objek. Skala thrustone di susun dengan meminta responden untuk membaca dafata pernyataan yang ada dan memberikan tanda atau poin pada pernyataan yang mereka setujui. Dari situ, poin-poimn yang mereka pilih akan di hitung dan di cari rat-ratanya untuk memperoleh skor sikap seseorang.

2. Skala likert
Skala ini lebih sering digunakan daripada skala Thustone di atas. Rensis Likert (1903-1981) mengembangkan beberapa sikap. Responden kemudian memilih satu angka dari skala setuju sampai tidak setuju. Jumlah dari angka yang di pilih menunjukan sikap respondden terhadap hal ynag dimaksud. Misalnya,untuk mengetahui sikap kita tentang iklan rokok, kita akan di hadapkan pada serangkaian penyataan yang mendukung atau melawan iklan semacam itu. Setiap pernyataan di ikuti dengan serangkaian angka-angka, sebagai skala yang menunjukan persetujuan/penolakan. Skala yang di susun itu bisa berupa sebagai berikut ini.
Amat setuju     1       2      3      4      5      Amat tidak setuju.

3. Skala Semantic Differential
Tehnik pengukuran sikap ini dating dari Osgood,suci, dan Tannenbaum(1957). Sebagaimana di jelaskan Sarwono.S(1997), dasar teorinya adalah \bahwa sikap orang terhadap suatu objek dapat di ketahui jika kita mengetahui konotasi(arti psikologi) dari kata yang melambangkan objek sikap itu.
PEMBENTUKAN SIKAP
Idealnya, sikap di bentuk dari pengalaman seseorang yang akan berfungsi sebagai penuntun perilakunya di masa dating. Para peneliti telah mengidentifikasikan tiga jenois pendekatan dalam memahami pembentukan sikap manusia, yaitu (1) pendekatan belajar, (2) pendekatan consistency cognitive, (3) pendekatan motivational, yang akan di uraikan secara rinci berikut ini.

1.       Pendekatan belajar (learning approaches)

Sikap biasanya terbentuk lewat proses pembelajaran, suatu proses dimana pengalaman dan praktek menghasilkan perilaku yang relative sama atau tetap. Proses pembelajaran ini secara umum di identifikasikan dalam pembentukan sikap melalui :

a. Asosiasi

Asosiasi mengacu pada proses menghubungkan pengalaman-pengalaman yang amat dekat dari segi waktu, ruang atau keadaan. Dua bentuk pembentukan sikap melalui asosiasi adalah classical conditioning dan more exposure.

1) Classical Conditioning.

Sikap bisa saja merupakan serangkaian ide,perasaan,dan keinginan yang kompleks. Namun, sikap bisa juga terbentuk dengan mengasosiasikan satu pengalaman dengan yang lain dan membuat respons yang umum terhadapnya. Belajar untuk membuat respons yang sama pada stimulasi yang diasosiasikan pada stimulus sebelumnya ittulah yang di sebut sebagai classical conditioning. Pada pengalaman emosional yang sederhana, perlakuan semacam ini bisa mengarah pada pembekuan sikap.

2) More Exposure
Pembentukan sikap yang paling jelas dapat di bentuk lewat pengalaman yang berulang-ulang dengan objek sikap, seperti manusia atau tampilan lingkungan yang sering kali di temui. Menurut psikolog Robert Zajonc, terpaan yang berulang-ulang itu biasanya akan menghasuilkan perasaan positif. Misalnya, iklan televise yang sering kita tonton bisa berdampak pada kesukaan kita terhadap produk yg di iklankan. Apalagi kalu kita beranggapan produk itu memang di butuhkan dan menarik.


b. Peneguhan(reinforcement)

Sikap bisa di pelajari dari pengalaman pribadi karena ada konsekuensi tertentu yang bisa di ambil dari sana. Misalnya, kita tahu bahwa setiap saat mengikuti mata kuliah psikologi, kita amat menikmatinya sehingga bisa memperoleh nilai tinggi terus menerus. Dari situ ada semacam peneguhan dalam mengembangkan sikap positif terhadap psikologi. Apalagi kalau temen-teman satu kelas kita juga menikmati mata kuliah ini dan selalu memperoleh nilai baik. Peneguhan merupakan segala macam konsekuensi dari pengalaman kita nantinya bisa menghasilkan perilaku tertentu, seperti kecenderungan untuk mengambil mata kuliah ini dan bukan yang lain atau membaca buku ini dan bukan yg lain,dan seterusnya. Mengenai peneguhan ini, terdapat dua factor yang dapat menimbulkan peneguhan yaitu sebagai berikut.

1) Pengaruh keluarga
Orang tua dan anggota keluarga adlah orang pertama yang memberikan peneguhan terhadap sikap seseorang. Kita biasanya akan cenderung untuk menerima penghargaan, seperti pujian, dan hadiah.
2) Kelompok bermain(peer group) dan kelompok acuan (reference group).
Semakin kita tumbuh dan berkembang dari anak-anak hingga dewasa, kelompok bermain (peers) menjadi hal yang penting dalam mempengaruhi sikap kita. Semakin banyak kita meluangkan waktu bersama teman satu kelompok yang sebaya dan semakin jarangnya bersama teman satu kelompok ynag sebaya dan semakin jarangnya berkumpul bersama keluarga akan membuat mereka menjadi kelompok yang selalu dijadikan acuan(reference group) dalam menentukan opini dan nilai di yang di anut.

Keterkaitan Sikap Dan Perilaku
Sejak awal penelitian tentang sikap benar-benar menjadi hal yang menarik karena di anggapbisa memperkirakan perilakumanusia di masa depan. Pada kegiatan belajar 1 telah di bahas bahwa sikap terdiri dari tiga domain yakni ABC (A=affective, perasaan, b= behavior,perilaku C= cognitive, kesadaran).

A. KESESUAIAN ANTARA SIKAP DAN PERILAKU

Pernyataan yang kerap muncul adalah apakah sikap mengarah pada keinginan untuk bertindak atau berperilaku dan juga padaperilaku secara spesifik? jika memang benar begitu, berarti seorang politikus atau pemasang iklan hanya perlu untuk mengukur pendapat seseorang untuk memperkirakan kecenderungan mereka untuk memilih atau membeli dengan cara tertentu. Menurut Triandis(1982), ketidaksesuaian antara perilku dan sikap disebabkan karena 40faktor (selain sikap) yang terpisah-pisahyang mempengaruhi perilaku. Temuan ini tidaklah baru karena adanya ketidaksesuaiian antara sikap dan perilaku sudah diketahui para pakar sejak lama.
Terdapat tiga macam daya tarik yang membuat seseorang cenderung disukai dan lebih persuasive, yaitu sebagai berikut.

a. Penampilan fisik. Orang yang berpenampilan baik atau enak dipandang lebih bisa mempersuasi orang di banding dengan komunikator yang berpenampilan biasa.
b. Power ( kekuasaan). Komunikator yang terlihat memiliki kekuasaan lebih persuasive di banding sumber yang tidak di efektif/dikenal.

c. Kesamaan dengan penerima pesan. Komunikator yang membangun kesamaan dengan penerima pesan , misalnya dengan mengatakan “ saya sama dengan anda semua” maka rekomendasinya atas suatu hal dapat lebih persuasive karana penerima pesan menemukan ada kesamaan dengan pembicara.

TEORI-TEORI PERUBAHAN SIKAP
Terdapat dua macam teori yang mengembangkan hipotesis tentang apa mempersuasi sipa, kapan, dan bagaimana, yaitu elaboration-likelihood model, dan self-justfication theories.

1.       The elaboration-likelihood model
Perubahan sikap merupakan hasil dari beragam factor yang terlibat dalam transmisi pesan, yaitu sumber, pesan, dan penerima pesan. Akan tetapi ketiga factor itu tidak selalu bekerja bersama-sama. Apa yang terjadi jika komunikator kredibel dan atraktif, namun pesanya sangat berbeda dan tidak sesuai dengansudut pandang yang dimiliki penerima pesan? Oleh Karen itu, juga perlu diperhatikan kapan dan bagaimana fakto-faktor tersebut akan sangat mempengaruhi.
a.       Sentral processing(pemrosesan pada hal inti atau pusat)
Seseorang melakukan pemrosesan pusat atau sistemik jika ia berkonsentrasi atau focus pada argument dalam pesan persuasive. Logis kah alas an yang dikemukakan? Dapatkah pesan itu menguasai perhatiaannya? Jawaban penerima pesan atas pertanyaan tersebut akan menentukan apakah pesan itu efektif atau tidak.
b.      Peripheral processing (pemrosessan pada hal pinggir)
Jika kondisinya tidak memungkinkan untuk berkonsentrasi pada pusat pesan, menurut model petti dan caiopo persuasi akan bergantung pada pemrosesan peripheral atau heuristic dengan demikian, penerima pesan terpengaruh bukan pada pesan yang diterima, melainkan pada hal-hal yang berada di luar hal itu, seperti karakteristik komunikator, penyajian pesan atau penerima pesan.

2.       Self-justification
 Menurut teori-teori pembenaran diri ini, kita butuh untuk membenarkan tindakan yang kita lakukan, dan mempertahankan konsistensi sikap dan perilaku kita.
a.       Dissonance reduction
 teori koogninitf dissonance milik Leon Festinger menyatakan bahwa ketidaksesuaian antara tindakan yang baru dan sikap yang lama akan menciptakan dissonance, keadaan tidak nyaman yang mendorong kita untuk menguranginya. Oleh karena tindakan yang sudah dilakukan tidak dapat ditarik kembali maka sikap elemen kognitif yang dapat di tundukan di ubah agar sesuai tindakan.
b. The power of commitment

1.       behavior lead to attitude (perilaku menuntun pada sikap)
 Beberapa sikap dapat dengan mudah di ubah dibandingkan sikap-sikap lainnya. Sikap yang terbentuk dari pengalaman pribadi cenderung lebih kuat dari pada sikap yang diperoleh dari tangan kedua (orang yang tau hal lain).

2.       indocements(dorongan atau pancingan)
Contoh : maukah anda beralih dari merk kopi yang biasa anda gunakan untuk menghemat uang? Ketika berbelanja, bagaimana jika anda melihat merklain harganya lebih rendah di banding merk favorit anda tersebut ? pada saat itu, anda mungkin terdorong untuk membeli merk lain yang lebih murah.

Persepsi dan Atribusi


Manusia memang tidak hanya melakukan tindakan persepsi terhadap objek. Tetapi manusia juga melakukan proses persepsi mengenai orang atau orang – orang lain. Persepsi tentang orang (person perception) kadang juga disebut persepsi social. Tujuannya adalah untuk memahami orang dan orang – orang lain (Sarlito 1997).

Menurut Rahmat (2003) ada empat perbedaan anatara persepsi obyek dan persepsi tentang orang (persepsi interpersonal):
1.     Persepsi obyek, stimuli dianggap sebagai panca indra melalui benda – benda fisik : gelombang cahaya, gelombang suara, temperatur. Sedangkan persepsi tentang orang, stimuli samapai kepada kita melalui lambang – lambang verbal atau grafis yang disampaikan pada pihak ke tiga.
2.     Persepsi tentang orang jauh lebih sulit daripada persepsi objek. Pada persepsi objek, kita hanya menaggapi sifat - sifat luar objek tersebut. Namun, pada persepsi tentang orang, kita mencoba memahami apa yang tidak ditangkap oleh alat indra kita. Kita coba memahami bukan saja perilaku orang, tetapi motiv atau mengapa orang berperilaku.
3.     Persepsi obyek, obyek tidak bereaksi kepada kita. Kita tidak memberikan reaksi emosional terhadap objek. Namun, ketika melakukan persepsi kepada orang lain, berbagai factor telibat seperti faktor – faktor personal kita, karakteristik orang lain yang dipersepsi maupun hubungan antara kita dengan orang tersebut.
4.     Objek relative tetap, tapi orang cenderung berubah –ubah.

Waber (1992) menyebut istilah inferensi sosial. Inferensi sosial berarti mengerti apa yang kita pelajari tentang orang atau orang lain. Inferensi sosial kita umumnya datang dari empat sumber. Yaitu:
 (1) informasi sosial tentang oranglain: manusia adalah mawkhluk yang selalu membutuhkan informasi tentang orang lain yang berada disekitar dirinya. Contohnya saja saat anda menemui seseorang yang sedang lari dengan membawa buku. Pasti anda akan menanyakan padanya, “kenapa anda terburu-buru? Ada masalah kah?”

 (2) penampilan: apakah memang benar penampilan bisa dijadikan dasar dalam menilai seseorang? Tidak bisa dipungkiri, penampilan fisik merupakan hal yang pertama kali diperhatikan saat kita bertemu dan bertatap muka dengan seseorang. Penampilah fisik seseorang kita juga bisa memperoleh data – data social yang penting tentang dirinya. Misalnya saja, apa yang ada dalam pikiran anda saat melihat seorang laki – laki berpakaian rapih, berkemeja licin yang dimasukan kedalm celananya? Pastiakan muncul  pemikiran atau penilaian bahwa laki-laki itu adalah seorang pejabat, orang sibuk, atau orang yang memang selalu berada di lingkungan perusahaan.

(3) petunjuk nonverbal:
A. Eksperi wajah
Ekspresi wajah seseorang memegang peranan penting dalam interaksi dengan sesama. Petunjuk wajah di anggap merupakan sumber persepsi yang dapat di andalkan.
B. Kontak mata, menunjukan seberapa intim kita dengan lawan bicara. Saat interaksi dengan orang yang tidak kita kenal biasanya kita akan menghindari kontak mata yang terlalu sering dengan mereka. Sebaliknya, kalau sedang berinteraksi dengan orang yang amat kita senangi kontak mata akan dilakukan sesering mungkin.
C. Gerakan tubuh (gesture), yang kita lakukan memiliki makna atau arti tersendiri. Gerakan di sini bisa berupa gerakan tangan, lengan, maupun kepala. Beberapa gerakan memiliki arti tertentu. Misalnya, jari tangan( telunjuk dan jari tengah) yang memiliki huruf V menunjukan tanda damai atau kemenangan (victory).
D. Suara, yang kita keluarkan bisa memberikan pengaruh besar dalam menunjukan emosi dan perasaan.
E. Tindakan, dalam membentuk persepsi interpersonal, manusia sering kali memfokuskan diri atau memberi perhatian pada bagaimana cara seseorang bertindak terhadap orang lain.

(4) implikasi tindakan – tindakan orang lain.

a.      Impression integration

Bagaimanakah mengintegerasikan berbagai kesan dan makna yang berbeda terhadap seseorang? Ada beberapa strategi untuk mengintegrasikan kesan – kesan itu:

1.)    Evaluasi
Keputusan yang paling penting yang kita buat tentang orang lain adalah apakah kita menyukai atau tidak menyukainya. Melalui kebaikan dan keburukan seseorang ini berarti suatu evaluasi yang kita berikan kepada orang lain.
2.)    Averaging
Saat kesan terhadap seseorang itu bercampur (misalnya ada yang kita senangi, kita benci, ada yang kita ragukan, dan lainnya), apakah satu sama lain bisa saling mengisi? Penelitian menyebutkan bahwa kesan yangberlawanan bisa saling bersatu melalui proses pukul rata (process of averaging). Secara spesifik, kualitas yang berbeda pada setiap individu tidak hanya dievaluasi (dinilai mana yang baik dan mana yang buruk, positif atau negatif), tetapi juga memberi bobot (mana yang lebih penting, dan mana yang kurang penting).
3        3.)    Consistency
         Konsistensi berarti suatu kesan yang kita miliki tentang seseorang, menentukan kesan lain           yang kita peroleh tentang orang itu. Misalnya, apabila informasi awal yang kita peroleh tentang seseorang kita nilai positif atau baik maka kesan berikutnya tentang orang itu juga akan dinilai dengan baik secara konsisten. Halo effect adalah salah satu kencenderungan prinsip konsistensi dalam pembentukan kesan.
4        4.)    Positivity
        Beberapa penilitian menunjukkan, manusia cenderung untuk melihat orang lain dalam hal    yang positif. Bias positif ini merupakan perpanjangan dari keinginan manusia untuk memperoleh pengalaman yang selalu baik.

A.     PENGERTIAN ATRIBUSI

Untuk mempermudah penjelasan tentang atribusi, marilah kita simak contoh kasus berikut:

Bayangkan diri anda suatu waktu baru saja pulang dari berbelanja kebutuhan sehari – hari di supermarket dekat rumah. Saat itu, anda sedang berjalan sendirian menuju rumah dengan tangan yang penuh dengan kantong belanjaan. Tiba – tiba saja dari arah berlawanan, anda di kejutkan dengan sepeda motor yang datAng dengan kecepatan tiinggi. Sepeda motor itu semakin mendekati anda dan hampir menabrak anda. Dengan kedua tangan yang penuh, anda tidak bisa menjaga keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Bahkan salah satu kantong belanja anda terjatuh dan isinya berhamburan dijalan. Saat itu, secara reflex, anda bisa saja marah lalu mengejar sepeda motor itu. Tetapi hal itu tidak mungkin karena anda sedang berjalan kaki dan anda juga harus membereskan barang – barang belanjaan anda. Hal yang mungkin anda lakukan adalah menggerutu. Andapun berfikir kenapa pengendara itu melakukan hal tersebut.

Atribusi adalah proses menyimpulkan motiv, maksud, dan karakteristik orang lain dengan melihat pada perilaku yang tampak (Baron dan Byrne, 1979).

Mengapa manusia melakukan atribusi?

Menurut Myers (1996) kecenderungan memberikan atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu (ada sifat ilmuan dalam manusia), temasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain.

Fritz Heider yang terkenal sebagai tokoh psikologi atribusi, dasar untuk mencari penjelasan mengenai perilaku orang adalah akal sehat.

TEORI-TEORI ATRIBUSI

1. Correspondent infrence theory (teori penyimpulan terkait)
Teori ini difokuskan pada orang yang dipersepsikan. Teori ini sendiri dikembangkan oleh Edwards E. Jones dan Keith Davis (1965). Menurut teori ini, perilaku merupakan sumber informasi yang kaya. Dengan demikian, apabila kita mengamati perilaku orang lain dengan cermat, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan.

2. Casual analysis theory (Teori Analisis Kasual)
Teori ini merupakan teori atribusi yang lebih terkenal. Dasarnya adalah tetap commonsense (akal sehat) dan berfokus pada atribusi internal dan eksternal. Teori ini dikembangkan oleh Harold H. Kelley.
Teori Analisis Kasual menyebutkan ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk menetapkan apakah suatu perilaku beratribusi internal atau eksternal.

a. Kosensus
Apakah susatu perilaku cenderung dilakukan oleh semua orang pada situasi yang sama? Makin banyak yang melakukannnya, makin tinggi kosensus; makin sedkit yang melakukannya, makin rendah kosensus

b. Konsistensi
Apakah perilaku yang bersangkutan cenderung melakukan perilaku yang sama dimasa lalu dalam kondisi yang sama? Jika iya, berarti konsistensinya tinggi; jika tidak maka konsistensinya rendah.

c. Distingsi dan kekhasan
Apakah pelaku yang bersangkutan cenderung melakukan perilaku yang sama di masa lalu dan situasi yang berbeda – eda? Kalu iya, maka distingsinya tinggi; kalau tidak, naka distingsinya rendah.

Meurut Kelley, bila ketiga hal tersebut tinggi maka orang akan melakukan atribusi kausalitas tinggi. Misalnya, ibu marah kepada tukan sayur keliling, begitu pula ibu – ibu lain di kompleks (berarti kosensus tinggi).

BIAS – BIAS DALAM ATRIBUSI (ATTRUTIONAL BIASES)
Dalam menganalisis suatu perilaku tertentu, kita tentunya menemukan beberapa bias atau kesalahan sebagai bentuk lain dari kognisi social. Ada dua jenis bias dalam atribusi:

1. Bias Kognitif (Cognitive Biases)
Disini disebutkan bahwa atribusi merupakan suatu proses yang rasional dan logis. Teori atribusi menjelaskan bahwa manusia mengolah informasi dengan cara yang rasional.

a. Salience
Hal ini membuat kita melihat stimuli sebagai hal yang paling berpengaruh dalam membentuk persepsi. Sesuatu yang bergerak, berwarna atau baru atau apapun yang sering bergerak akan mendapatkan perhatian yang lebih dari pada yang diam atau stabil.
b. Memberikan atribusi lebih pada disposisi (overattributing to dispositions)
Salah satu konsekuensi dari bias ini adalah kita lebih sering menjelaskan perilaku seseorang melalui disposisinya. Disposisi itu kemudian dianggap sebagai kepribadian dan perilakunya secara umum, sementara situasi disekitarnya tidak bisa kita perhatikan.
c. Pelaku vs Pengamat
Salah saut hal yang menarik dalam kesalahan atribusi yang mendasar adalahhal itu biasanya terletak pada pengamat dan bukan pelakunya. Para pelaku biasanya justru sering terlalu menekankan pada peran factor eksternal.

2. Bias Motivasi (Motivational Biases)
      Bias ini muncul dari usaha yang dilakukan manusia untuk memenuhi kepentingan dan motivasi mereka. Seperti dijelaskan sebelumnya, bias kognitif timbul dari anggapan bahwa seolah – olah manusia hanya memiliki satu kebutuhan, yaitu kebutuhan untuk memperoleh pemahaman yang jelas dan menyeluruh tentang lingkungannya. Sementara dalam kenyataannya, manusia memiliki kebutuhan lain, seperti kasih saying, percaya diri, harga diri, kebutuhan materi, yang sering kali tidak diindahkan.

E. ATRIBUSI TENTANG DIRI (SELF)

Banyak pembahasan mengenai atribusi adalah atribusi tentang orang lain. Padahal, manusia juga melakukan atribusi terhadap diri sendiri.
Salah satu hal yang menarik dalam teori atribusi adalah orang memiliki persepsi berdasarkan kondisi internalnya sendiri, sama seperti saat mereka memiliki persepsi tentang kondisi orang lain. Sama seperti atribusi tentang orang lain, dalam atribusi tentang diri sendiri kita juga mencari sebab – akibat suatu tindakan yang kita lakukan.
Pendekatan ini memberikan pemahaman tentang persepsi diri mengenai sikap, motivasi, dan emosi.

1. Sikap
Telah banyak penelitian yang menunjukan bahwa seseorang memiliki sikap sendiri melalui introspeksi, dengan melihat kembali berbagai pemikiran dan perasaannya secara sadar.

2. Motivasi
Dalam elemen ini, manusia cenderung mau melakukan sesuatu untuk ganjaran atau imbalan yang tinggi. Ini berarti manusia memiliki atribusi eksternal dalam melakukan suatu hal “saya mau melakukannya karena saya dibayar tinggi untuk itu” sementara melakukan hal yang sama dengan imbalan yang sedikit atau lebih rendah akan membuat manusia memiliki atribusi internal.

3. Emosi
Para peneliti mengatakan bahwa pada dasarnya manusia mengenal apa yang didasarkan dengan cara mempertimbangkan atau memahami keadaan psikologi, mental, dan berbagai dorongan eksternal yang menyebabkan ha itu terjadi. Stanly Schacter (1962) pernah melakukan penelitian tentang persepsi diri dengan pendekatan emosional.