Tuesday, November 27, 2012

Konsep diri dan Kognisi sosial


Manusia tidak selamanya melakukan persepsi hanya terhadap orang lain. Tetapi persepsi pada diri sendiri adalah salah satu hal penting juga. Menurut Charles Horton Cooley, “kita coba membayangkan diri kita sebagai orang lain (dalam benak kita)”. Looking-glass self (cermin diri); seperti kita melihat di cermin. Kita bisa menilai apa yang kita lihat dihadapan kita.
 Awalnya kita membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita. Kemudian kita mengalami perasaan tertentu saat menyadari apa yang ada dipikiran kita. Misal itu senang, malu, atau kecewa.

A.     PENGERTIAN DIRI (SELF-CONCEPT)
Saat mengamati diri kita sendiri maka itulah gambaran dan penilaian tentang diri kita.
Ini disebut Self-concept (konsep diri). Konsep diri adalah pikiran dan keyakinan seseorang mengenai dirinya sendiri. Contohnya: anak kecil yang mendeskripsikan dirinya dengan kalimat “saya pandai menggambar”

William D. Brooks: “Konsep diri adalah persepsi yang bersifat fisik, social,dan psikologis, mengenai diri kita, yang didapat dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain”.

Rakhmat, 2003: “Konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri kita.”

Misalnya anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri anda:

Bagaimana watak saya sebenarnya?
Apa yang membuat saya bahagia dan sedih?
Apa yang sangat mencemaskan saya? – Persepsi Psikologis

Bagaimana orang lain memandang saya?
Apakah mereka menghargai atau merendahkan saya?
Apakah mereka membenci atau menyukai saya? – Persepsi Social

Bagiamana pandangan saya tentang penampilan saya?
Apakah saya orang yang menarik atau jelek?
Apakah tubuh saya kuat atu lemah? – Persepsi Fisis


B. SUMBER-SUMBER KONSEP DIRI
Konsep diri bersumber dari self-esteem (harga diri) dan social evaluation (penilaian social):

1. Self-Esteem
Self-esteem (harga diri) adalah penilaian (positif atau negative) individu terhadap diri sendiri. Self-esteem yang tinggi tingginya estimasi individu atas nilai, kemampuan, dan kepercayaan yang dimilikinya. Sedangakan self-esteem yang rendah melibatkan penilaian yang buruk akan pengalaman masa lalu dan pengharapan yang rendah bagi pencapaian masa depan. Orang dengan self-esteem tinggi memiliki sikap positif terhadap dirinya, merasa puas dan menghargai diri sendiri (yakin bahwa mereka mempunyai sejumlah kualitas baik).

2. Social Evaluation (Penilaian Sosial)
Deskripisi tentang diri sendiri tidak hanya kita dapatkan dari perenungan atau refleksi dari orang lain. Terkadang kita yakin dengan penilaian orang lain terhadap diri kita. Hal ini bisa mempengaruhi perilaku dan keinginan diri kita untuk memilih berubah atau tidak (sesuai penilaian orang lain)

a.    Reflected appraisal (Pantulan penilaian)
Bagaimana orang lain menilai Anda? Pendapat kita tentang diri sendiri adalah cermin (refleksi atau pantulan) dari penilaian orang lain terhadap kita. Pendapat orang lain ini bisa berpindah menjadi pendapat kita terhadap diri sendiri.
b.    Direct feedback (Umpan balik langsung)
Saat orang orang lain seperti orang tua atau temen dekat menyatakan penilaiannya tentang diri kita, kitapun menerima feedback (umpan balik) tentang kualitas dan kemampuan kita.
C.      TEORI-TEORI KONSEP DIRI
Self-concept seseorang tidak hanya gagasan tentang diri sendiri tetapi juga pengharapan atas keyakinan dan sikap.

Teori self-concept:
1.      Social comparison theory (teori perbandingan sosial): bagaimana perbandingan dengan orang lain mempengaruhi keyakinan kita.
2.      Self-perception theory (teori persepsi diri): menguji hubungan antara tindakan dan pemahaman kita terhadap sikap dan tujuan kita.

1. Social Comparison (Pembandingan social)
Leon Festinger menjelaskan, social comparison theory adalah membantu menjelaskan berbagai macam fenomena, termasuk keyakinan social, perubahan sikap, dan komunikasi kelompok”

Social comparison theory ini dibangun atas empat prinsip dasar berikut:

a. Setiap orang memiliki keyakinan tertentu.
b. Penting bagi keyakinan kita untuk menjadi benar.
c. Beberapa keyakinan lebih sulit untuk dibuktikan dibanding yang lainnya. Hal-hal yang tidak bisa dibuktikan secara objektif mungkin dibuktikan secara subjektif melalui pembuktian bersama (membuat orang lain setuju).
d. Ketika anggota dari kelompok rujukan (refrence group) saling tidak setuju tentang suatu hal, mereka akan berkomunikasi hingga konflik tersebut terselesaikan.
Menurut social comparison theory, ada kecenderungan-kecenderungan dalam melakukan perbandingan social, yaitu :
a. Similarity hypothesis (hipotesis kesamaan)
Biasanya kita membandingkan diri hanya dengan orang yang memiliki kesamaan dengan kita. Smiliarity hypothesis ini umumnya kita terapkan jika melakukan evaluasi terhadap penampilan. Akan tetapi, tidak demikian hanya dengan evaluasi pendapat. Kita mungkin merasa pendapat kita diperkuat oleh orang lain meskipun orang tersebut, dalam banyak hal, tidak sama dengan kita.
b. Related attributes hypothesis (hipotesis atribut yang berhubungan)
Kita membandingkan penampilan tidak hanya dengan mereka yang memiliki kesamaan, tetapi juga dengan orang yang kita pikir sama dengan kita.
c. Downward comparisons (pembandingan ke bawah)
Biasanya kita membuat perbandingan social dengan orang lain yang sama atau seharusnya sama dengan kita. Pada suatu hal, kita mungkin membandingkan diri dengan orang yang kita pikir lebih rendah (inferior). Inilah yang di sebut downward comparisons (pembandingan kebawah) ; terjadi ketika kita merasa kecewa atau gagal. Penelitian menunjukkan bahwa kalimat “Saya lega Saya bukan..” menuntun orang untuk merasa lebih baik mengenai diri dan keadaan.
d. Consequences of sosial comparison (Konsekuensi dari perbandingan sosial)
Pada beberapa kasus, social comparison merupakan proses yang terjadi otomatis, dan biasanya terbatas pada hal lain yang relevan
Apa sajakah tanda-tanda orang yang memiliki kualitas konsep diri yang positif ? Brook dan Emert (Rakhmat, 2003) menyebutkan ada lima ciri orang yang memiliki konsep diri positif :
1. Ia yakin akan kemampuan mengatasi masalah.
2. Ia merasa setara dengan orang lain.
3. Ia menerima pujian tanpa rasa malu.
4. Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat.
5. Ia mampu memperbaiki dirinya karena mengungkapkan kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.
Adapun orang yang memiliki konsep diri negative adalah mereka yang memiliki ciri-ciri :
1. Peka terhadap kritik, artinya ia tidak tahan menerima kritik, mudah marah dan emosi. Baginya, koreksi dari orang lain sering kali dianggap sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya.

2. Sangat responsive dan antusias terhadap pujian. Baginya, segala hal yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya.

3. Hiperkritis terhadap orang lain. Sikap ini dikembangkan sejalan dengan sikap kedua tadi; di satu pihak ia selalu ingin dipuji, tetapi di pihak lain ia tidak sanggup mengungkap penghargaan atau pengakuan akan kelebihan orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun atau siapapun.

4. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tak diperhatikan. Ia tidak mempermasalahkan dirinya, tetapi akan menganggap dirinya sebagai korban dari system social yang tidak beres. Ia menganggap orang lain sebagai musuh hingga tak dapat melahirkan kehangatan dalam berhubungan denga orang lain.

KOGNISI SOSIAL TENTANG DIRI
1. Self-awareness (Kesadaran Diri)

Self-awareness (kesadaran diri) merupakan perhatian sesorang yang terfokus pada diri sendiri, perasaannya, nilai, maksud, dan atau evaluasi dari orang lain. Self-awareness membantu kita untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita. Self-awareness menunjukan tingkat atau derajat kita mengetahui diri kita sendiri.

Dalam Johari Window dijelaskan bahwa “diri” manusia terbagi atas empat bagian atau sel (quadran, jendela,bagian). Tiap-tiap sel itu mewakili bagian “diri” (self) yang berbeda-beda.

 Photobucket
a. Open Self (daerah terbuka)
Bagian self ini menyajikan informasi, perilaku, sifat, perasaan, keinginan, motif, dan ide yang diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain.
b. Blind self (Daerah Buta)
Bagian self ini menyajikan hal-hal tentang diri kita yang diketahui oleh orang lain namun tidak diketahui oleh diri kita.
c. Hidden self (Daerah Tersembunyi)
Bagian ini berisi tentang hal-hal yang kita ketahui dari dalam diri kita sendiri dan tidak diketahui oleh orang lain. Bagian ini kita simpan untuk diri kita sendiri, merupakan rahasia kita.
d. Uknown Self (Daerah Tidak Diketahui/Tidak Dikenal)
Bagian ini merupakan aspek diri kita yang tidak diketahui baik oleh diri kita sendiri maupun orang lain.

No comments: