Manusia memang tidak hanya melakukan tindakan persepsi
terhadap objek. Tetapi manusia juga melakukan proses persepsi mengenai orang
atau orang – orang lain. Persepsi tentang orang (person perception) kadang juga
disebut persepsi social. Tujuannya adalah untuk memahami orang dan orang –
orang lain (Sarlito 1997).
Menurut Rahmat (2003) ada empat perbedaan anatara persepsi
obyek dan persepsi tentang orang (persepsi interpersonal):
1. Persepsi obyek, stimuli dianggap
sebagai panca indra melalui benda – benda fisik : gelombang cahaya, gelombang
suara, temperatur. Sedangkan persepsi tentang orang, stimuli samapai kepada
kita melalui lambang – lambang verbal atau grafis yang disampaikan pada pihak
ke tiga.
2. Persepsi tentang orang jauh lebih sulit
daripada persepsi objek. Pada persepsi objek, kita hanya menaggapi sifat -
sifat luar objek tersebut. Namun, pada persepsi tentang orang, kita mencoba
memahami apa yang tidak ditangkap oleh alat indra kita. Kita coba memahami
bukan saja perilaku orang, tetapi motiv atau mengapa orang berperilaku.
3. Persepsi obyek, obyek tidak bereaksi
kepada kita. Kita tidak memberikan reaksi emosional terhadap objek. Namun,
ketika melakukan persepsi kepada orang lain, berbagai factor telibat seperti
faktor – faktor personal kita, karakteristik orang lain yang dipersepsi maupun
hubungan antara kita dengan orang tersebut.
4. Objek relative tetap, tapi orang
cenderung berubah –ubah.
Waber (1992)
menyebut istilah inferensi sosial. Inferensi sosial berarti mengerti apa yang
kita pelajari tentang orang atau orang lain. Inferensi sosial kita umumnya
datang dari empat sumber. Yaitu:
(1) informasi sosial tentang oranglain: manusia adalah mawkhluk yang selalu
membutuhkan informasi tentang orang lain yang berada disekitar dirinya. Contohnya
saja saat anda menemui seseorang yang sedang lari dengan membawa buku. Pasti
anda akan menanyakan padanya, “kenapa anda terburu-buru? Ada masalah kah?”
(2) penampilan: apakah memang benar penampilan bisa
dijadikan dasar dalam menilai seseorang? Tidak bisa dipungkiri, penampilan
fisik merupakan hal yang pertama kali diperhatikan saat kita bertemu dan
bertatap muka dengan seseorang. Penampilah fisik seseorang kita juga bisa
memperoleh data – data social yang penting tentang dirinya. Misalnya saja, apa
yang ada dalam pikiran anda saat melihat seorang laki – laki berpakaian rapih,
berkemeja licin yang dimasukan kedalm celananya? Pastiakan muncul pemikiran atau penilaian bahwa laki-laki itu
adalah seorang pejabat, orang sibuk, atau orang yang memang selalu berada di
lingkungan perusahaan.
(3) petunjuk nonverbal:
A. Eksperi wajah
Ekspresi wajah seseorang memegang peranan penting dalam interaksi dengan
sesama. Petunjuk wajah di anggap merupakan sumber persepsi yang dapat di
andalkan.
B. Kontak mata, menunjukan seberapa
intim kita dengan lawan bicara. Saat interaksi dengan orang yang tidak kita
kenal biasanya kita akan menghindari kontak mata yang terlalu sering dengan
mereka. Sebaliknya, kalau sedang berinteraksi dengan orang yang amat kita
senangi kontak mata akan dilakukan sesering mungkin.
C. Gerakan tubuh (gesture), yang
kita lakukan memiliki makna atau arti tersendiri. Gerakan di sini bisa berupa
gerakan tangan, lengan, maupun kepala. Beberapa gerakan memiliki arti tertentu.
Misalnya, jari tangan( telunjuk dan jari tengah) yang memiliki huruf V
menunjukan tanda damai atau kemenangan (victory).
D. Suara, yang kita keluarkan bisa
memberikan pengaruh besar dalam menunjukan emosi dan perasaan.
E. Tindakan, dalam membentuk
persepsi interpersonal, manusia sering kali memfokuskan diri atau memberi
perhatian pada bagaimana cara seseorang bertindak terhadap orang lain.
(4) implikasi tindakan – tindakan
orang lain.
a. Impression
integration
Bagaimanakah mengintegerasikan
berbagai kesan dan makna yang berbeda terhadap seseorang? Ada beberapa strategi
untuk mengintegrasikan kesan – kesan itu:
1.)
Evaluasi
Keputusan yang paling penting yang kita buat tentang orang lain adalah
apakah kita menyukai atau tidak menyukainya. Melalui kebaikan dan keburukan
seseorang ini berarti suatu evaluasi yang kita berikan kepada orang lain.
2.) Averaging
Saat kesan terhadap seseorang itu bercampur (misalnya ada yang kita
senangi, kita benci, ada yang kita ragukan, dan lainnya), apakah satu sama lain
bisa saling mengisi? Penelitian menyebutkan bahwa kesan yangberlawanan bisa
saling bersatu melalui proses pukul rata (process of averaging). Secara
spesifik, kualitas yang berbeda pada setiap individu tidak hanya dievaluasi
(dinilai mana yang baik dan mana yang buruk, positif atau negatif), tetapi juga
memberi bobot (mana yang lebih penting, dan mana yang kurang penting).
3 3.) Consistency
Konsistensi berarti suatu kesan yang kita
miliki tentang seseorang, menentukan kesan lain yang kita peroleh tentang orang
itu. Misalnya, apabila informasi awal yang kita peroleh tentang seseorang kita
nilai positif atau baik maka kesan berikutnya tentang orang itu juga akan
dinilai dengan baik secara konsisten. Halo effect adalah salah satu
kencenderungan prinsip konsistensi dalam pembentukan kesan.
4 4.) Positivity
Beberapa penilitian menunjukkan, manusia
cenderung untuk melihat orang lain dalam hal yang positif. Bias positif ini
merupakan perpanjangan dari keinginan manusia untuk memperoleh pengalaman yang
selalu baik.
A. PENGERTIAN
ATRIBUSI
Untuk mempermudah penjelasan tentang
atribusi, marilah kita simak contoh kasus berikut:
Bayangkan diri anda suatu waktu baru saja pulang dari
berbelanja kebutuhan sehari – hari di supermarket dekat rumah. Saat itu, anda
sedang berjalan sendirian menuju rumah dengan tangan yang penuh dengan kantong
belanjaan. Tiba – tiba saja dari arah berlawanan, anda di kejutkan dengan
sepeda motor yang datAng dengan kecepatan tiinggi. Sepeda motor itu semakin
mendekati anda dan hampir menabrak anda. Dengan kedua tangan yang penuh, anda
tidak bisa menjaga keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Bahkan salah satu
kantong belanja anda terjatuh dan isinya berhamburan dijalan. Saat itu, secara
reflex, anda bisa saja marah lalu mengejar sepeda motor itu. Tetapi hal itu
tidak mungkin karena anda sedang berjalan kaki dan anda juga harus membereskan
barang – barang belanjaan anda. Hal yang mungkin anda lakukan adalah
menggerutu. Andapun berfikir kenapa pengendara itu melakukan hal tersebut.
Atribusi adalah proses menyimpulkan motiv, maksud, dan
karakteristik orang lain dengan melihat pada perilaku yang tampak (Baron
dan Byrne, 1979).
Mengapa manusia melakukan atribusi?
Menurut Myers (1996) kecenderungan
memberikan atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan
segala sesuatu (ada sifat ilmuan dalam manusia), temasuk apa yang ada dibalik
perilaku orang lain.
Fritz Heider yang terkenal sebagai tokoh psikologi atribusi, dasar untuk
mencari penjelasan mengenai perilaku orang adalah akal sehat.
TEORI-TEORI ATRIBUSI
1. Correspondent infrence theory (teori penyimpulan
terkait)
Teori ini difokuskan pada orang yang dipersepsikan. Teori ini
sendiri dikembangkan oleh Edwards E. Jones dan Keith
Davis (1965). Menurut teori ini, perilaku merupakan sumber informasi
yang kaya. Dengan demikian, apabila kita mengamati perilaku orang lain dengan
cermat, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan.
2. Casual analysis
theory (Teori Analisis Kasual)
Teori ini merupakan teori atribusi yang lebih terkenal.
Dasarnya adalah tetap commonsense (akal sehat) dan berfokus pada atribusi
internal dan eksternal. Teori ini dikembangkan oleh Harold H. Kelley.
Teori Analisis Kasual menyebutkan
ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk menetapkan apakah suatu perilaku
beratribusi internal atau eksternal.
a. Kosensus
Apakah susatu perilaku cenderung dilakukan oleh semua orang
pada situasi yang sama? Makin banyak yang melakukannnya, makin tinggi kosensus;
makin sedkit yang melakukannya, makin rendah kosensus
b. Konsistensi
Apakah perilaku yang bersangkutan cenderung melakukan perilaku
yang sama dimasa lalu dalam kondisi yang sama? Jika iya, berarti konsistensinya
tinggi; jika tidak maka konsistensinya rendah.
c. Distingsi dan
kekhasan
Apakah pelaku yang bersangkutan cenderung melakukan perilaku
yang sama di masa lalu dan situasi yang berbeda – eda? Kalu iya, maka
distingsinya tinggi; kalau tidak, naka distingsinya rendah.
Meurut Kelley, bila ketiga hal tersebut tinggi maka orang
akan melakukan atribusi kausalitas tinggi. Misalnya, ibu marah kepada tukan
sayur keliling, begitu pula ibu – ibu lain di kompleks (berarti kosensus
tinggi).
BIAS – BIAS DALAM ATRIBUSI (ATTRUTIONAL BIASES)
Dalam menganalisis suatu perilaku
tertentu, kita tentunya menemukan beberapa bias atau kesalahan sebagai bentuk
lain dari kognisi social. Ada dua jenis bias dalam atribusi:
1. Bias Kognitif (Cognitive Biases)
Disini disebutkan bahwa atribusi merupakan suatu proses yang
rasional dan logis. Teori atribusi menjelaskan bahwa manusia mengolah informasi
dengan cara yang rasional.
a. Salience
Hal ini membuat kita melihat stimuli sebagai hal yang paling
berpengaruh dalam membentuk persepsi. Sesuatu yang bergerak, berwarna atau baru
atau apapun yang sering bergerak akan mendapatkan perhatian yang lebih dari
pada yang diam atau stabil.
b. Memberikan atribusi
lebih pada disposisi (overattributing to dispositions)
Salah satu konsekuensi dari bias ini adalah kita lebih sering
menjelaskan perilaku seseorang melalui disposisinya. Disposisi itu kemudian
dianggap sebagai kepribadian dan perilakunya secara umum, sementara situasi
disekitarnya tidak bisa kita perhatikan.
c. Pelaku vs Pengamat
Salah saut hal yang menarik dalam kesalahan atribusi yang
mendasar adalahhal itu biasanya terletak pada pengamat dan bukan pelakunya.
Para pelaku biasanya justru sering terlalu menekankan pada peran factor
eksternal.
2. Bias Motivasi (Motivational Biases)
Bias ini muncul
dari usaha yang dilakukan manusia untuk memenuhi kepentingan dan motivasi
mereka. Seperti dijelaskan sebelumnya, bias kognitif timbul dari anggapan bahwa
seolah – olah manusia hanya memiliki satu kebutuhan, yaitu kebutuhan untuk
memperoleh pemahaman yang jelas dan menyeluruh tentang lingkungannya. Sementara
dalam kenyataannya, manusia memiliki kebutuhan lain, seperti kasih saying,
percaya diri, harga diri, kebutuhan materi, yang sering kali tidak diindahkan.
E. ATRIBUSI TENTANG DIRI (SELF)
Banyak pembahasan mengenai atribusi
adalah atribusi tentang orang lain. Padahal, manusia juga melakukan atribusi
terhadap diri sendiri.
Salah satu hal yang menarik dalam teori atribusi adalah orang
memiliki persepsi berdasarkan kondisi internalnya sendiri, sama seperti saat
mereka memiliki persepsi tentang kondisi orang lain. Sama seperti atribusi
tentang orang lain, dalam atribusi tentang diri sendiri kita juga mencari sebab
– akibat suatu tindakan yang kita lakukan.
Pendekatan ini memberikan pemahaman tentang persepsi diri
mengenai sikap, motivasi, dan emosi.
1. Sikap
Telah banyak penelitian yang menunjukan bahwa seseorang
memiliki sikap sendiri melalui introspeksi, dengan melihat kembali berbagai
pemikiran dan perasaannya secara sadar.
2. Motivasi
Dalam elemen ini, manusia cenderung mau melakukan sesuatu
untuk ganjaran atau imbalan yang tinggi. Ini berarti manusia memiliki atribusi
eksternal dalam melakukan suatu hal “saya mau melakukannya karena saya dibayar
tinggi untuk itu” sementara melakukan hal yang sama dengan imbalan yang sedikit
atau lebih rendah akan membuat manusia memiliki atribusi internal.
3. Emosi
Para peneliti mengatakan bahwa pada dasarnya manusia mengenal
apa yang didasarkan dengan cara mempertimbangkan atau memahami keadaan
psikologi, mental, dan berbagai dorongan eksternal yang menyebabkan ha itu
terjadi. Stanly Schacter (1962) pernah melakukan penelitian tentang
persepsi diri dengan pendekatan emosional.
No comments:
Post a Comment